FAJAR TELAH KEMBALI
Oleh Siti Yuniatin
“Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang dihambur-hamburkan. …(Al Qaari’ah:1-5)”
“Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang dihambur-hamburkan. …(Al Qaari’ah:1-5)”
Ayat ayat itu begitu menggetarkan hati Anin. Sungguh ia tak menyangka ayat itu telah membawakan fajar kembali ke pangkuannya…
Siang itu udara tak begitu bersahabat bagi Anin. Seperti halnya ketika Anin terpaksa harus ngebon dulu di warung mbok Jah untuk makan hari ini. Kehidupan di perantauan memang penuh perjuangan, Memang harus berjuang, gali lobang tutup lobang yang penting halal. Walaupun memang menyusahkan orang lain. Tapi jauh dilubuk hati Anin sebenarnya bukan itu yang dirisaukannya saat ini. Tapi…
“ Aku sedih, kenapa ya aku nggak bisa seperti Faza. Dia begitu anggun dan santun dengan jilbab panjangnya. Dia juga baik dan pinter. Andai aku bisa seperti kamu, Za” Pikir Anin, Ia tengah duduk di samping jendela kamarnya tak lama setelah Faza melintas di depannya.
“ Assalamualaikum. Kok ngelamun aja sih, Mbak?” Tanya Faza tiba-tiba dengan senyum khasnya yang renyah, serenyah gorengan Cak Us dekat kampus.
“Eh…uh... i…iya. Ngagetin aja deh, darimana Za?” Tanya Anin.
“Biasalah dari kajian sama anak-anak Maba di al-Farabi.” Al-farabi salah satu kegiatan lembaga dakwah di kampusku.
“ Kok kamu nggak ikut?” timpal Faza.
“ Iya, lagi banyak tugas nih. Lain kali aja ya?”
“Ok deh. Tapi nanti ba’da maghrib bisa kan kita kajian rutin di kamarmu?”
“Aduh gimana ya, aku nanti ada acara sama Fajar. Sorry ya nggak bisa lain kali aja deh.”
“Ok deh, nggak masalah kok. Aku pergi dulu ya, mau ke rumah Santi.”.
“ Heee! Pergi lagi? Baru aja sampai udah pergi lagi. Hati-hati, Za ”
Begitulah, setiap kali Faza ngajak Anin kajian fiqih, selalu saja ada alasan untuk menolak. Ada tugas lah, ada rapat UKMlah, janjian sama Fajarlah. Padahal sebenarnya ia sangat suka kajian itu, tapi karena Fajar. Anin tak mau kehilangan waktu bersama Fajar. Cowok satu kampus yang sudah dipacarinya satu tahun ini. Walaupun sebenarnya ia tahu pacaran itu dilarang agama. Tapi bukan Anin kalau nggak bebal. Uh… Anin, Anin kapan kamu berubah.
Anin tergolong mahasiswa cerdas dan aktif. Ia menjabat beberapa jabatan penting di organisasi kampus. Cukup dikenal karena ia baik dan grapyak dalam pergaulan. Namun sayang kebiasaannya runtang runtung sama Fajar mengkhawatirkan banyak temannya terutama Faza. Ia berkali-kali menyarankan Anin untuk mengurangi frekuensi ketemuan sama Fajar tapi dengan dalih kangen dan cinta berat saran Faza seperti angin lalu saja, Faza hanya bisa gigit jari melihat teman satunya ini tetep gandengan sama Fajar.
“Aku susah banget kalau nggak ketemu Fajar satu hari aja, Za. Dia selalu menjadi semangat buatku. Aku nggak bisa pisah dari dia, aku sayang banget sama dia.“ kata Anin pada Faza suatu hari.
“ Tapi pacaran bukan satu-satunya cara untuk mendapat semangat hidup kan, Nin? Masih banyak cara lain kan? Pacaran iku ora ono apiké “
“ Faza yang cantik dan imut, percaya deh aku gak bakalan neko-neko. Aku ngerti batas-batasnya kok.“
“Nin, aku takut suatu hari kamu kecewa dan patah hati. Lalu…”
“ Tenang aé toh!! Aku pasti baik-baik saja.” Itu kata-kata Anin sebelum ia pergi meninggalkan Faza yang bengong melihat tingkah teman satu kosnya ini.
“Anin, Anin, kamu sudah dewasa tapi nggak pernah berubah.” Pikir Faza dalam hati.
***
Siang itu Faza ke Gramedia cari novel islami untuk ulang tahun Hanum, adiknya yang baru duduk di bangku kelas satu SMA. Ketika asyik memilih judul buku, tiba-tiba Faza dikejutkan oleh suara isak tangis wanita dari luar jendela toko.
Ia seperti mengenal suara itu, “Suara siapa Ya? Masak Anin? Ah, nggak mungkin.” Pikir Faza.
Ia segera ke kasir dan keluar mencari sumber suara tadi dan ternyata benar, itu Anin, dia menangis sendirian. Faza menghampiri Anin dengan tergopoh-gopoh.
“ Anin? Ngapain di sini? Kok sendirian? Fajar mana?”
Begitu melihat Faza, Anin memeluknya dengan erat. Faza membiarkannya, dan memcoba menenangkannya, ia tahu sahabatnya sedang sedih. Namun ia tak berani bertanya. “Ah, biar nanti ia pasti cerita sendiri”batin Faza. Mereka pulang bersama.
***
“Waduh?? Di mana novelku tadi ya? Di tas nggak ada! di meja nggak ada! opo ketlésut yo atau…Astaghfirullah. Mungkin jatuh waktu tadi meluk Anin?” Faza kebingungan mencari novelnya yang tadi dibeli.
“Kok nggak ketemu-ketemu sih? Apa ketinggalan di angkot? Atau di halte? Aduh gawat! bisa-bisa beli lagi nih. Mana kantong lagi seret. Maaf ya dék, kakak nggak bisa beliin kado kamu tahun ini”
“Za. Aku boleh masuk nggak?” Faza dikejutkan sapaan Anin, “Tumben-tumbenan Anin kekamarku” pikir Faza.
“Eh… kamu Nin, masuk aja.” “Gimana Nin, kamu dah baikan?” Anin mengangguk pelan.
“Maaf ya aku nanya-nanya, Sebenarnya kamu tadi kenapa sih?”
Anin menghela nafas panjang, seolah ia merasakan beban yang begitu berat. “ Za, ternyata benar kata kamu, pacaran itu nggak ada untungnya.”
“ Lho! Emangnya kamu tadi ada masalah sama Fajar?”
Anin diam, dia kelihatan masih engggan bercerita dan tak lama matanya tampak berkaca-kaca. Aduh aku jadi nggak enak banget nih, pikir Faza.
“Kemarin aku dari toko buku sama Fajar. Kami sedang menuju Warung Lesehan untuk makan siang. Sampai tiba-tiba ada wanita seumuranku dia mendekati kami, Za.” Anin terisak .
“Dia…dia….mengaku sebagai tunangan Fajar d…a...n….dan… yang menyakitkan dia ternyata sedang mengandung anak Fajar, Za. Hatiku sakit banget rasanya, aku pingin mati aja saat itu. Aku begitu muak melihat wajah Fajar yang sok kebingungan, sok menyesal. Dan yang lebih menyakitkan lagi, Za, Fajar sama wanita itu ninggalin aku begitu saja tanpa sepatah katapun. Hatiku sakit Za. Sakiiit banget. Aku ini dianggap apa sama dia. Aku selama ini sudah banyak berkorban untuknya. Tapi dia…dia…ternyata….seorang….ba….”
“Anin, Anin sudahlah jangan diteruskan. Mungkin ini teguran buat kamu dan aku. Bahwa apa yang selama ini kita rasa indah tetapi belum tentu di ridhoi Allah. Kamu harus meyakini bahwa ini semua adalah bagian dari perjalanan hidup. Yang harus diisi dengan tinta emas yang terbaik. Aku tahu kamu sangat kecewa tapi sedih berlarut-larut juga nggak akan menyelesaikan masalah. Lebih baik kamu melupakan dia, memang nggak mudah, but try it!” .
Anin masih terlihat sembab “Aku nggak nyangka Za, dia bakalan sejahat itu sama aku. Aku sekarang benci banget sama dia.”
“Ya udahlah Nin. Yang penting sekarang kamu ambil hikmahnya saja. Bersyukurlah, Nin. Semua ini pertanda bahwa Allah masih sayang sama kamu. Dia masih memperlihatkan apa yang selama ini tidak pernah kau ketahui.”
Anin tersenyum tipis pertanda ia masih sangat kecewa. Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Faza membiarkan saja, ia tak ingin mengganggu kawannya yang sedang loro ati ini. Sambil mencari novelnya Faza memutar kaset kesayangannya, Opick-Tombo Ati. Anin tampak benar-benar meresapi lagu itu, matanya berkaca-kaca, mungkin ia sedang menyesali semuanya, pikir Faza.
“Za. Kamu mau bantu aku nggak?!” perkataan Anin yang tiba-tiba dan penuh semangat ini mengejutkan Faza
“ Bantu apa? Kalau bisa pasti aku bantu.”
“Aku pingin pakai jilbab Za” Faza terkejut tak percaya bercampur senang, sahabatnya berubah, apa mungkin karena lagu ini? Atau… Pikiran Faza sibuk menganalisa hati Anin. “Ya emang nggak bisa seperti kamu sih tapi aku ingin memperbaiki diriku, Za. Kok diem sih? Nggak mau Bantu ya? Ya, kalau begitu …”
“Eiiit…tunggu dulu Nin. Bukan aku nggak mau Bantu. Sorry deh aku tadi kaget banget kamu ngomong gitu. Don’t worry be happy! Aku pasti bantuin kamu.”
“Ih Faza kayak iklan di TV aja. Kalau gitu besok anterin aku beli jilbab ya?”
“OK bos, pasti aku antar”
Semenjak itu Anin resmi berjilbab, meskipun tidak seperti Faza tapi ia berjilbab atas kesadarannya sendiri bukan karena siapapun. Dan bisa ditebak deh, seisi kampus geger melihat perubahan Anin tapi mereka support banget sama make-overnya Anin. Banyak yang respect lho!
Tak lama setelah berjilbab, Fajar datang lagi menemui Anin untuk meminta maaf. Emang berat sih, tapi tau nggak?? Anin tetep maafin Fajar lho. Itu yang bikin Faza betah jadi sahabat Anin.
“Nin, liburan semester ini kamu mudik nggak??”
“Ya iyalah, Za. Aku kangen banget sama masakan emak.”
“ Waaah, aku kayaknya bakal jadi penunggu kosan nih. Tapi jangan lupa oleh-olehnya ya?“
“So Pasti, Za. Aku bawain wortel sekarung deh”
“Hi...hi...hi…hi…emangnya aku kelinci.” mereka ketawa cekikikan bareng.
Pagi pagi banget Anin sampai di kampung halaman tercinta. Emang sengaja berangkat pagi-pagi biar nggak kepanasan di jalan, soalnya naik bis bomel yang non AC, kebayang kan kalau berangkat siang-siang.
“ Nin kamu kurusan sekarang, memangnya makannya nggak teratur ya? Hati-hati lho, Nin. Nanti kena maag.”
“Ah, kata siapa, Mak? Anin makannya selalu teratur kok.”
“Tapi kamu kurus banget, Nin, Emak tambah uang bulanannya ya?”
“Emangnya Emak ada uang lebih?”
“Insyaallah, ada.”
Anin emang bukan dari keluarga kaya tapi ia berasal dari keluarga sederhana yang memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Anin patut bangga sih, walaupun ayah ibunya bukan pegawai, tapi mereka mampu menyekolahkan kedua kakaknya sampai sarjana dan dua adiknya yang masih SMA dan SMP. Padahal sekarang biaya pendidikan mahal banget.
Anin sebenarnya bahagia dengan keluarganya, tapi ada satu hal yang membuat hati Anin agak sedih dan kecewa. Ya…kedua orang tua Anin tidak pernah mengenal sholat. Anin sedih banget kalau lihat orang tua temannya sholat berjamaah sedangkan Anin nggak pernah bisa.
“Nin, kamu tahu sendiri besok mbak harus berangkat ke Bima, kerjaan mbak banyak di sana. mbak sudah membelikan bapak dan emak peralatan sholat. Sekarang tugasmulah mengajari mereka sholat.” kata-kata Mbak Arin terus terngiang-ngiang di telinga Anin bahkan sampai membuat Anin tak mampu memejamkan mata. Kenapa harus aku? Pikir Anin. Anin bingung bagaimana caranya ngomong ke Bapak sama Emak. Sedangkan ia tahu watak kedua orang tuanya sangatlah keras. Dia takut nantinya akan terjadi perang dunia ke III di rumahnya. Ini sulit banget. Ya Allah beri aku kekuatan…
***
“Nin gimana liburannya? Asyik kan?”
“Asyik sih. Tapi aku ada sedikit masalah, Za.”
“Masalah apa sih? Cerita dong. Siapa tahu aku bisa bantu kamu.”
“Za, bukannya aku nggak bersyukur, bukannya aku nggak bahagia dengan keluargaku sekarang, tapi alangkah bahagianya aku bila kedua orang tuaku rajin ibadah.”
“Orang tuamu nggak sholat, Nin??”
“Iya, Za aku harus bagaimana? Setiap kali aku mau ngomong ke mereka, selalu saja ada rasa enggan, takut, cemas, dan rasanya bibirku terkatup rapat-rapat. Sedangkan aku di beri amanah mbakku untuk ngajari mereka sholat. Tapi aku ragu, aku takut mereka marah besar. Aku takut mereka membenciku, aku takut mer…”
“Sudahlah Nin, aku tahu apa yang kamu rasakan. Aku tahu ini berat. Lebih berat ketika kita mengajari orang tua dari pada mengajari teman kita sendiri. Tapi satu hal, Nin. Kamu seharusnya memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Karena tidak semua orang diberi kesempatan berdakwah apalagi pada keluarganya sendiri”.
“Tapi aku takut, Za!”
“Ya udah gini aja deh, nanti sore kamu ikut aku ya ke ESQ di aula kampus. Aku yakin kamu akan lebih memiliki kekuatan setelah itu.”
“Oke deh aku ikut.”
Sore itu Anin dan Faza beserta ratusan mahasiswa lain mengikuti ESQ di aula. Tak ada yang bicara karena mereka sibuk berdialog dengan hati masing-Masing. Begitupun Anin, dia menyadari bahwa kelak semua umat manusia akan dihisab dengan amalannya masing-masing. Dia hanya berpikir bagaimana dengan orang tuanya kelak, apakah mereka akan bahagia di kehidupan yang kedua nanti? Kenapa untuk mengatasi hal seperti itu saja ia tak sanggup? Anin tersadar.
“Inilah saatnya aku harus berjuang, aku harus berani, aku harus menuntun mereka menuju jalan yang Engkau ridhoi ya Allah. Aku sungguh bahagia karena hari ini fajarku yang sebenarnya telah datang kembali menyambutku dengan penuh kehangatan, menuntunku menuju jalan yang di ridhoi. Bapak ….Emak, tunggu anakmu. Aku akan datang membawakan fajar yang hilang untuk keluarga kita. Aku berjanji.
Komentar
Posting Komentar