KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN
Perkenalkan
nama saya Siti Yuniatin, S.Pd. Saaya adalah CGP Angkatan 10 kelas 304B. Saya
mengajar Bahasa Inggris di SMP Negeri 3 Sukapura Satu Atap Kab. Probolinggo
Jawa Timur. Pada kesempatan ini saya ingin
berbagi informasi tentang Pengambilan Keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan
sebagai seorang pemimpin pada Modul 3.1.
1. Bagaimana filosofi Ki
Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan
penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Filosofi Ki Hajar
Dewantara dengan Pratap Triloka: ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso
tut wuri handayani memberikan makna yang besar bagi seorang guru pada saat pengambilan
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam kalimat ing ngarso sung
tulodho: KHD berpandangan bahwa guru sebagai pemimpin, harus memberikan contoh yang
baik dalam pengambilan keputusan. Ini berarti menunjukkan integritas,
kejujuran, dan keberanian moral dalam setiap keputusan yang diambil atau memberikan contoh
praktik baik kepada murid. Dalam Ing Madya Mangun Karsa (Di
tengah membangun semangat): Melibatkan dan memberdayakan orang lain dalam
proses pengambilan keputusan. Pemimpin harus mendengarkan, mendorong
partisipasi, dan membangun semangat kolaborasi.setiap pengambilan keputusan,
2. Bagaimana
nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip
yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Nilai-nilai kebajikan
universal yang tertanam dalam diri kita sangat mempengaruhi prinsip-prinsip
yang kita ambil dalam pengambilan keputusan. Nilai-nilai seperti kejujuran,
keadilan, empati, dan tanggung jawab akan membimbing kita untuk membuat
keputusan yang tidak hanya efektif tetapi juga berpihak pada murid. Nilai-nilai
ini menjadi landasan moral yang membantu kita menavigasi situasi yang kompleks
dan sering kali membingungkan.
3. Bagaimana
materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan)
yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran
kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita
ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan
tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang
telah dibahas pada sebelumnya.
Masihkah ada
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan? Apakah
pengambilan keputusan tersebut telah efektif,? Pertanyaan tersebut bisa dibantu
dengan sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul sebelumnya.
Coaching adalah
ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu, baik masalah dalam diri
kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA,
kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat
pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apabila
dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian
keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.
Pendampingan yang
dilakukan oleh fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan
yang telah saya ambil. Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid,
sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang
saya ambil tersebut akan dapat saya pertanggung jawabkan.
4. Bagaimana
kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan
berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema
etika?
Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek
sosial-emosionalnya sangat mempengaruhi pengambilan keputusan, terutama dalam
dilema etika. Kesadaran sosial-emosional membantu guru untuk Berempati dan
memahami perspektif orang lain, Mengelola emosi sendiri dengan baik sehingga
dapat membuat keputusan yang bijaksana, Membangun hubungan yang sehat dan
positif dengan murid dan teman sejawat.
5. Bagaimana
pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada
nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Keberpihakan dan
mengutamakan kepentingan murid dapat tercipta dari pendidik yang mampu membuat
solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu melihat
permasalahan dari berbagai sudut pandang sehingga mampu membedakan apakah
permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral. Seorang
pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral
dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai kebajikan
yang ada pada dirinya Ketika mengambil keputusan. Jika nilai-nilai yang
dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat dan dapat
dipertanggung jawabkan dan sebaliknya. Kita tahu bahwa Nilai-nilai yang
dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan
berpihak pada anak didik, Nilai tersebut akan mendorong guru untuk
menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan
meminimalisir kemungkinan kesalahan dalam pengambilan keputusan yang dapat
merugikan semua pihak khususnya peserta didik.
6. Bagaimana
pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Keputusan yang tepat berdampak pada terciptanya
lingkungan sekolah yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Ini karena
keputusan yang tepat:
·
Membangun
kepercayaan dan rasa hormat di antara semua anggota komunitas sekolah.
·
Menyelesaikan
konflik secara adil dan efektif.
·
Mendorong
budaya keterbukaan dan transparansi
7. Apakah tantangan-tantangan di
lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma
di lingkungan Anda?
Tantanngan untuk
menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus dilema etika adalah adanya
beberapa pihak yang enggan melaksanakan keputusan yang sudah diambil. Hal ini
dikarenakan orang-orang tersebut sudah terlalu nyaman dengan paradigma lama
yang sudah sejak lama dijalani. Sehingga sulit merubah menuju paradigma baru.
8. Apakah
pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang
memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang
tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Pengaruh pengambilan
keputusan dalam hal pengajaran adalah Ketika guru dihadapkan pada keputusan dalam
memilih metode, pendekatan dan media mengajar apa yang sesuai dengan materi
yang akan diajarkan dan sesuai dengan karakter murid. Sehingga pembelajaran
nanti akan benar-benar berpihak pada murid. Untuk menggali potensi siswa yang
berbeda-beda maka guru perlu menggunakan Pembelajaran yang Berdiferensiasi.
Dimana pembelajaran ini dibagi menjadi 3 macam yaitu Berdiferensiasi Proses,
Berdiferensiasi Konten dan Berdiferensiasi Produk
9. Bagaimana
seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi
kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Keputusan yang diambil oleh pemimpin pembelajaran dalam
proses pembelajaran dapat mempengaruhi perkembangan akademik dan emosional
muridnya. Bagaimana seorang guru dapat memilih metode mengajar, media mengajar dalam
pembelajaran sehingga akan membentuk karakter murid. Karena guru mengajar bukan
hanya transfer ilmu saja melainkan juga membentuk kecerdasan emosional/karakter
muridnya.
10. Apakah
kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini
dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan
yang didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul
sebelumnya:Pengambilan keputusan
adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus
berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin
pembelajaran. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan
menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif,
kondusif, aman dan nyaman (well being). Dalam pengambilan keputusan seorang
guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya
menuju profil pelajar pancasila. Dalam perjalanannya menuju profil pelajar
pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan
panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan
dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi
terwujudnya merdeka belajar. Konsep dilema etika dan bujukan moral adalah
sebuah konsep praktis yang aplikasinya adalah pengambilan keputusan dalam
kaitannya sebagai pemimpin yang berbasis nilai nilai kebajikan. Dalam
pengaplikasiannya, diperlukan identifikasi yang jeli, jelas dan mendetail dalam
mengenali kedua hal ini. Identifikasi mendalam diarahkan pada 4 paradigma
masalah, 3 prinsip mengatasi masalah serta 9 langkah pengujian keputusan.
11. Sejauh
mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul
ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan,
3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Dilema etika merupakan sebuah
keadaan yang keduanya adalah benar benar
lawan benar. Sedangkan bujukan
moral adalah keadaan benar lawan salah. Dalam bujukan moral tentu nya kita
sudah dapat mengambil keputusan secara langsung untuk mengambil keputusan yang
benar. Dalam dilema etika karena keduanya benar maka kita perlu melakukan
proses melihat paradigma apa yang terjadi yang terdiri dari 4 paradigma yaitu
individu lawan kelompok, keadilan lawan kasihan, kebenaran lawan kesetiaan,dan
jangka pendek lawan jangka panjang. Dalam 3
prinsip pengambilan keputusan juga perlu kita perhatikan yaitu prinsip hasil
akhir, prinsip peraturan dan prinsip rasa kasihan. Pada 9 langkah
pengujian juga perlu kita perhatikan yaitu: mengenali nilai-nilai yang saling
bertentangan, menentukan siapa yang terlibat, mengumpulkan fakta
yang relevan, pengujian benar salah, Pengujian paradigma benar lawan benar,
melakukan 3 prinsip resolusi, investigasi opsi trilema, keputusan akhir dan
lihat dan refleksikan keputusan.
Yang menurut saya diluar
dugaan yaitu sebelum saya mempelajari modul
ini saya hanya mendasarkan pada hal-hal yang bersifat intuisi yang berasal dari
pengalaman dan pendapat orang lain. Setelah mempelajari modul ini saya jadi
lebih paham untuk pengambilan keputusan
pada sesuai dengan paradigma dilema etika, 3 prinsip dan 9
langkah pengujian.
12. Sebelum
mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai
pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa
yang Anda pelajari di modul ini?
Pernah, Bedanya dengan dilema
etika di modul 3.1 adalah selama ini saya hanya mengambil keputusan
berdasarkan pada intuisi dan kepentingan orang banyak untuk meminimalisir
pergolakan-pergolakan dalam pelaksanakan hasilnya. Sedangkan dalam modul ini
telah dijelaskan Langkah-langkah dalam pengambilankeputusan secara detail yang
berdasar pada paradigma dilema etika, prinsip dilema etika dan 9 langkah pengujian.
13. Bagaimana
dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi
pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti
pembelajaran modul ini?
Konsep ini sangat berdampak
pada cara saya dalam mengambil keputusan. Perubahan yang terjadi yaitu Sebelum mengikuti
pembelajaran modul 3.1 saya hanya mengambil keputusan berdasarkan pada intuisi
dan kepentingan orang banyak untuk meminimalisir pergolakan-pergolakan dalam pelaksanakan
hasilnya. Setelah mengikuti pembelajaran dalam modul ini saya mengambil
keputusan berdasarkan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan
dan 9 langkah pengujian.
14. Seberapa
penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda
sebagai seorang pemimpin?
Modul ini sangat penting, karena saya belajar banyak hal baru yang belum
pernah saya dapatkan sebelumnya. Sebagai individu, saya
menjalankan kehidupan sehari-hari dan tugas sebagai pendidik tentunya akan
dihadapkan pada sebuah keadaan untuk mengambil keputusan-keputusan yang tepat
dan dalam waktu yang singkat. Maka ketrampilan dalam pengambilan keputusan di
Modul ini sangat diperlukan. Apalagi sebagai seorang pemimpin yang akan sering dihadapkan
pada kondisi dimana harus membuat keputusan yang tepat bagi kesejahteraan orang-orang
yang dipimpinnya.

Mantab ibu Siti, siap melakukan transformasi pendidikan untuk anak2 tercinta. Sukses selalu ibu
BalasHapusThanks a lot Ma'am
BalasHapus