KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

 









Assalamuallaikum Wr. Wb

 SALAM GURU PENGGERAK !!!

 Perkenalkan nama saya Siti Yuniatin peserta Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 10 dari SMP Negeri 3 Sukapura Satu Atap Kab. Probolinggo, pada kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan koneksi antar materi Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik.

 

A.   Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar

 1. Pengalaman/materi yang baru saja diperoleh

Dalam modul 2.3 membahas tentang Coaching untuk Supervisi Akademik. Supervisi akademik dilakukan untuk pembelajaran yang berpihak pada murid sebagaimana tertuang dalam standar proses pada Standar Nasional Pendidikan Pasal 12 yaitu: Pelaksanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b diselenggarakan dalam suasana belajar yang: interaktif, inspiratif, menyenangkan,  menantang, memotivasi Peserta Didik untuk berpartisipasi aktif; dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis Peserta Didik.

Oleh karena itu, penting kiranya bagi kita memastikan bahwa supervisi akademik yang kita jalankan benar-benar berfokus pada proses pembelajaran sebagaimana yang tertuang dalam standar proses tersebut.

 Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). 

 Tujuan coaching adalah menuntun coachee untuk menemukan ide baru atau cara untuk mengatasi tantangan yang dihadapi atau mencapai tujuan yang dikehendaki dan membangun kemitraan yang setara dan coachee sendiri yang mengambil keputusan. Coach hanya menghantarkan melalui mendengarkan aktif dan melontarkan pertanyaan, coachee lah yang membuat keputusan sendiri.

Paradigma Berpikir Coaching

1. Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan

2. Bersikap terbuka dan ingin tahu

3. Memiliki kesadaran diri yang kuat

4. Mampu melihat peluang baru dan masa depan

 Ada 3 prinsip coaching yang saya ketahui yakni asas kemitraan, proses kreatif dan memaksimalkan potensi. Kompetensi inti yang harus dikuasai oleh seorang coach adalah kehadiran penuh, mendengarkan aktif dan mengajukan pertanyaan berbobot.

 Mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure:

RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask yang akan dijelaskan sebagai berikut:

-R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semAskua informasi yang disampaikan coachee. Perhatikan kata kunci yang diucapkan.

-A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee. Respon yang diberikan bisa dengan anggukan, dengan kontak mata atau melontarkan “oh…” “ya…”. Bentuk apresiasi akan muncul saat kita memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan situasi lain atau sibuk mencatat.

-S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama. Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee. Saat merangkum bisa gunakan potongan-potongan informasi yang telah didapatkan dari percakapan sebelumnya. Minta coachee untuk konfirmasi apakah rangkuman sudah sesuaiSetelah merangkum apa yang disampaikan coachee bagian terakhir adalah

-A (Ask/Tanya) mengajukan pertanyaan berbobot.

 Pelaksanaan coaching menggunakan alur TIRTA, yakni Tujuan, Indentifikasi, Rencana Aksi dan Tanggung Jawab.

1. Tujuan Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee.

2. Identifikasi (Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi.

3. Rencana Aksi (Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat)

4. TAnggungjawab (Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya)

 

Umpan Balik berbasis Coaching

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat memberikan umpan balik dengan prinsip coaching:

1. Tujuan pemberian umpan balik adalah untuk membantu pengembangan diri coachee

2. Tanpa umpan balik, orang tidak akan mudah untuk berubah

3. Sesuai prinsip coaching, pemberian umpan balik tetap menjaga prinsip kemitraan

4. Selalu mulai dengan memahami pandangan/pendapat coachee

 Menurut Costa dan Garmston (2016) dalam Cognitive Coaching: Developing Selfdirected Leaders and Learners, ada beberapa jenis umpan balik balik yang mendukung kemandirian untuk penerima umpan balik.

 Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching

Dengan memiliki paradigma berpikir coaching, kita bersama akan meningkatkan peran kita di sekolah sebagai seorang supervisor. Supervisor yang dimaksud dapat diperankan oleh kepala sekolah, guru senior dan rekan sejawat.

 Supervisi akademik merupakan serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk memberikan dampak secara langsung pada guru dan kegiatan pembelajaran mereka di kelas. Supervisi akademik perlu dimaknai secara positif sebagai kegiatan berkelanjutan yang meningkatkan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran yakni pembelajaran yang berpihak pada anak. Karenanya kegiatan supervisi akademik hanya memiliki sebuah tujuan yakni pemberdayaan dan pengembangan kompetensi diri dalam rangka peningkatan performa mengajar dan mencapai tujuan pembelajaran (Glickman, 2007, Daresh, 2001).

 Supervisi akademik sebagai proses berkelanjutan yang memberdayakan dan Kualitas guru yang diharapkan untuk berkembang juga termasuk didalamnya peningkatan motivasi atau komitmen diri. Kualitas pembelajaran meningkat seiring meningkatnya motivasi kerja para guru. Peningkatan kompetensi pendidik dalam mendesain pembelajaran yang berpihak pada murid

 Seorang pemimpin pembelajaran dan sekolah perlu menghidupi paradigma berpikir yang memberdayakan bagi setiap warga sekolah dan melihat kekuatan-kekuatan yang ada dalam komunitasnya. Melalui supervisi akademik potensi setiap guru dapat dioptimalisasi sesuai dengan kebutuhan yang nantinya dapat membantu para guru dalam proses peningkatan kompetensi dengan menerapkan kegiatan pembelajaran baru yang dimodifikasi dari sebelumnya. Dan salah satu strategi yang dapat dilakukan dalam mencapai tujuan tersebut adalah melalui percakapan coaching dalam keseluruhan rangkaian supervisi akademik.

 Beberapa prinsip-prinsip supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching meliputi:

1. Kemitraan: proses kolaboratif antara supervisor dan guru

2. Konstruktif: bertujuan mengembangkan kompetensi individu

3. Terencana

4. Reflektif

5. Objektif: data/informasi diambil berdasarkan sasaran yang sudah disepakati

6. Berkesinambungan

7. Komprehensif: mencakup tujuan dari proses supervisi akademik

 Supervisi akademik didasarkan pada kebutuhan dan tujuan sekolah dan dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni pra observasi (perencanaan), observasi (pelaksanaan) dan pasca observasi (tindak lanjut)..

 2. Emosi yang dirasakan terkait pengalaman belajar

Emosi-emosi yang hadir sebelum pembelajaran modul 2.3 adalah cemas karena dari nama "coaching" tersebut saya masih mengartikan kalau coaching itu adalah sesuatu yang sangat rumit. Setelah saya mempelajari modul 2.3, saya mulai tertarik dalam mempelajari dan mengimplementasikan teknik coaching ini. Saya sangat semangat pada saat berkolaborasi dengan rekan-rekan saya dalam melaksanakan praktik coaching baik di ruang kolaborasi maupun demonstrasi kontekstual. Lalu selanjutnya saya merasa optimis bahwa saya dapat mengimplementasikan semua yang saya pelajari di modul 2.3.

 3. Yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan dalam proses belajar

Dalam proses belajar, yang saya rasa sudah baik adalah sudah mampu berkolaborasi dengan rekan sesama CGP saat mempraktikkan proses coaching baik sebagai coach, coachee dan supervisor. Saya juga sudah bisa mempraktekkan coaching sesuai dengan alur TIRTA.

 4. Yang perlu diperbaiki terkait keterlibatan dalam proses belajar

Pada saat keterlibatan dalam proses belajar, yang masih harus saya perbaiki adalah kemampuan dalam mengajukan pertanyaan yang berbobot. Pertanyaan berbobot ini akan mampu menggali permasalahan coachee dan tentunya akan membantu coachee dalam membuka pemikiran atau solusi yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.

 5. Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi

Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan pribadi setelah mempelajari modul 2.3, tentunya saya dapat memanajemen diri dari segala asumsi-asumsi yang biasanya timbul di benak saya pada saat ada rekan atau murid yang mengeluhkan permasalahan. Saya juga sudah mulai berlatih coaching metode TIRTA yang beriringan dengan mendengarkan dengan tehnik RASA.

 B.   Analisis untuk implementasi dalam konteks CGP

 1. Memunculkan pertanyaan kritis yang berhubungan dengan konsep materi dan menggalinya lebih jauh

Bagaimana prinsip coaching ini diterapkan dalam supervisi akademik di sekolah?

Kepala sekolah selaku pemangku kebijakan yang seharusnya menguasai teknik coaching dalam melakukan supervisi akademik. Supervisi seharusnya tidak hanya menilai penampilan guru saja, namun juga menggali potensi profesionalitas dari seorang guru. Tujuan supervisi harus jelas dengan melakukan percakapan sebelum observasi (pra observasi). Selama observasi, supervisor harus menilai sesuai data sehingga menimbulkan refleksi yang bermakna setelah observasi (pasca observasi).

 2. Mengolah materi yang dipelajari dengan pemikiran pribadi sehingga tergali wawasan (insight) baru

Coaching merupakan salah satu bentuk kepemimpinan pembelajaran yang berpihak kepada murid. Dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid, guru harus menguasai berbagai kompetensi sosial dan emosional, bukan hanya aspek kognitif saja. Dengan menguasai kompetensi tersebut, maka supervisi akademik yang dilakukan oleh supervisor dengan teknik coaching akan meningkatkan kinerja guru dan performa guru dalam melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid. Dalam supervisi akademik dengan metode coaching, guru tidak akan merasa digurui oleh supervisor, tetapi supervisor adalah mitra sejajar guru yang akan membantu guru dalam menggali ide-ide/solusi untuk permasalahan dalam mengajar yang dihadapi oleh guru.

 3. Menganalisis tantangan yang sesuai dengan konteks asal CGP (baik tingkat sekolah maupun daerah)

Tantangan terberat adalah menyeragamkan pemahaman tentang coaching dalam supervisi akademik baik di lingkungan sekolah maupun daerah. Selama ini supervisi akademik dianggap sebagai hal yang menakutkan karena guru atau orang yang akan disupervisi merasa takut dinilai seolah-olah supervisor adalah orang yang mencari kesalahan guru dalam mengajar. Hakikat supervisi seharusnya meningkatkan kinerja dan performa guru, bukan malah membuat guru merasa grogi dan takut.

 4. Memunculkan alternatif solusi terhadap tantangan yang diidentifikasi

Solusi yang ditawarkan adalah: Melakukan sosialisasi mengenai hakikat supervisi akademik yang meningkatkan performa guru. Memberikan contoh praktik coaching baik kepada murid maupun rekan sejawat.

 C.   Membuat keterhubungan

 1. Pengalaman Masa Lalu

Saya pernah disupervisi oleh Kepala Sekolah. Saya merasa takut karena saya merasa akan dinilai seperti ujian. Kegiatan supervisi ini dilakukan dengan langsung observasi di kelas tanpa adanya pembicaraan pra observasi terlebih dahulu. Namun setelah observasi/pasca observasi, Kepala sekolah memberikan umpan balik, apa saja yang masih kurang dan harus diperbaiki dalam proses saya mengajar di kelas.

 2. Penerapan di Masa Mendatang

Supervisi akademik haruslah meningkatkan performa guru dalam melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid. Supervisi akademik dengan metode coaching menerapkan 3 prinsip yakni asas kemitraan, proses kreatif dan peningkatan potensi. Sehingga guru tidak merasa sedang digurui, namun supervisor sebagai mitra dalam kegiatan supervisi. Dalam tahapan supervisi haruslah melalui 3 tahapan, yakni Pra Observasi, Observasi dan Pasca Observasi.

 3. Konsep atau praktik baik yang dilakukan dari modul lain yang telah dipelajari

Modul 2.1 : Dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi yang berpihak pada murid sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, maka guru harus menjalankan coaching dalam menentukan gaya belajar murid agar sesuai dengan kebutuhannya. Murid akan maksimal dalam menggali potensinya jika belajar sesuai dengan gaya belajarnya sendiri.

 Modul 2.2 : Dalam menjalankan nilai guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran, guru harus melakukan budaya positif dengan visi dan prakarsa perubahan yang berpihak pada murid. Salah satu cara dalam mengembangkan suasana positif dalam kelas adalah dengan menerapkan pembelajaran 5 KSE. Dalam 5KSE, terdapat teknik STOP dan mindfulness untuk dapat menciptakan suasana kelas menjadi lebih kondusif. Saat melakukan coaching pun, coach harus melakukan teknik mindfulness agar selama proses coaching, coach hadir sepenuhnya dalam semua sesi tersebut.

 4. Informasi yang didapat dari orang atau sumber lain di luar bahan ajar PGP.

 Saya juga mendapat banyak wawasan dari diskusi dengan rekan-rekan dan literatur tentang coaching, yang memberikan perspektif tambahan tentang bagaimana mengatasi tantangan dalam supervisi akademik. Dalam mempelajari coaching dalam supervisi akademik, banyak sumber yang bisa saya gunakan di luar modul PGP, antara lain: Media Online terutama dari youtube.com, kompasiana.com, guruberbagi.com, Praktik Baik instruktur, Fasilitator, PP terutama saat menjalani pendampingan individu, Praktik baik rekan guru dalam satu Lembaga, Komunitas MGMP Bahasa Inggris SMP Kab. Probolinggo.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JAHE MERAH, SIAPA YANG MINAT??

Baraka Allahu Lakuma Lyrics

English Synonim